DOA DI PENGHUJUNG MALAM

Punya banyak impian ibaratnya memiliki berbagai macam tanaman hias yang
beraneka warna dan jenis.
Dimana
tanaman hias dengan berbagai warna dan jenis itu kita tanam di tanah di halaman
sempit rumah kita. Pada saat menanam pertama kali kita pasti membayangkan
tanaman ini akan tumbuh subur dengan berbagai bunga yang memberikan warna indah
dan harum semerbak baunya bahkan mungkin bisa langsung kita rasakan pada saat
itu juga.
Terbayang juga
bermain-main disela-sela tanaman itu dan memetik bunganya.  

Namun impian sederhana itu bisa langsung berubah menjadi sesuatu yang tidak
terjangkau terlalu sulit untuk menyiapkan waktu merawat bunga-bunga kita
terlalu sibuk bahkan sekedar menyisahkan
waktu untuk bunga-bunga, ya untuk impian kita.

Bunga tidak akan tumbuh tanpa perhatian dan kesabaran kita untuk memotong
daun-daun yang kering, menyirami, mencabuti rumput-rumput liar disekitarnya dan
yang pasti memberikan pupuk dan ini semua adalah bentuk perhatian-perhatian
kita. Tetapi dengan segala kesibukan kita, sering kali justru membuat kita lupa
dan tak punya waktu untuk memperhatikan, dan tidak punya kesabaran untuk
merawat, menyiraminya. Perlahan tanaman kita menjadi kering dan layu begitu
juga dengan impian-impian kita pun terbang dan melayang. Mimpi dan impian itu
bener-bener berhenti hanya menjadi sebatas impian.

Ibarat merawat tanaman, impian-impian kita juga perlu dirawat dan diberikan
perhatian.

Sampai disini saya berfikir kembali berbagai macam target, banyak cita-cita
dan impianku dalam hidup ini. Salah satunya adalah tentang impian tentang
keluarga ideal yang aku bayangkan. Walau samar mungkin tapi gambaran itu ada.
Bukan masalah samar-samar yang aku risaukan tetapi sudah seberah besar
perhatian yang saya curahkan untuk keluargaku. 

Dihampir 2 tahun usia perkawinan kami, kami masih hidup berjauhan, saya di
Bulukumba Sulawesi Selatan sedangkan istri dan anak saya berada di Palangkaraya
Kalimantan Tengah. Komunikasi dan perhatian kami wujudakn dengan melalui telp
dan sms serta bertemu hanya sebulan sekali dan itupun hanya dalam beberapa hari
saja.

Masih teringat bagaimana saya masih sering mudah emosi menghadapi ekspresi-ekspresi
istriku yang menginginkan saya untuk lebih perhatian. Ohh Gusti Allah
malu saya kalau sudah begini. Waktuku sebagai suami dan ayah hanya bisa di
hitung beberapa hari dalam sebulan, itu juga kadang tidak rutin tiap bulan saya
bisa bersama mereka. Kadang dengan kesibukan kerjaku saya sering lupa untuk
telp bahkan sms. Kesempatan untuk telp dan sms-smsan biasanya ya pada saat
sepulang kerja, tetapi sering kali saya Pulang2 kerja sudah malam dan anak
istriku yang jauh disana sudah terlelap menuju pintu mimpi.
Ya aku hanya bisa berdoa semoga anak
istriku masih diberi mimpi indah oleh Sang Penjaga, jangan pula mimpi rindu tak
terjawab akan belaian kasih sayang seorang papa dan suami yang sedikit waktunya
untuk mereka. 

Kita boleh jadi memang sudah punya impian indah tentang keluarga yang kita
damba. Tapi tanpa perhatian dan kesabaran itu semua hanya akan menjadi tanaman
kering dan layu yang mudah mati.

Ohh Gusti Allah, sang Pengatur waktu beri hambamu ini
jalan untuk bisa mengelola diri lebih baik, di waktu-waktu yang kau pinjamkan,
beri hambamu ini kemampuan untuk memanfaatkan sedemikan rupa 

Ohh Gusti Allah, Yang Maha kuasa, beri kami
kekuatan untuk bisa sekedar memberi perhatian yang mereka butuhkan. Beri hamba
kemampuan untuk fokus pada impian kami.

Sering kali aku membela diri, mempertahankan dan menyelamatkan ego, dan
berlindung pada argumen-argumen tentang priorotas hidup, argumen keterbatasan
dan argumen atas kebutuhan material dan lain sebagainya. Memang argumen diatas
bisa menjadi argumen logis untuk kita ambil sebagai pembenaran atas apa yang
sudah kita lakukan. 

Saya sadar bahwa hidup adalah pilihan, dan saya juga sadar bahwa tidak
mudah untuk mendapatkan semua yang kita mau, dan kita mungkin tidak akan
mendapatkan semua yang kita idamkan. Dengan alasan-alasan diatas sungguh
menjadi alasan yang masuk akal dan menjadi pembenaran bagi banyak orang.untuk
bisa mengerti dan memahami atas semua prioritas kita. ”Lalu apakah keluarga
bukan prioritas untuk mu?”
pertanyaan keras yang sangat terasa menampar
telinga ku… menghujam dan menusuk hati

Saya tahu ini bukan perkara mudah, banyak orang yang memberikan pendapat manis
namun mereka berada pada posisi yang berbeda, banyak ahli juga sudah banyak menawarkan alternative-alternative solusi
indah. Namun tetap saja mereka tidak mengalami hal yang setara dengan yang kami
alami

Ya biarlah tulisan ini menjadi doa…walau lirih dan terbata kepada Yang
Maha Kuasa
Semoga kami bisa mewujudkan semua Mimpi-mimpi indah tentang keluarga yang
ideal
Yang kami dambakan.
Amin

Bulukumba
Untuk Mama dan jagoanku Rafi
Maafin papa…

3 Responses to “DOA DI PENGHUJUNG MALAM”

  1. Rayu Says:

    “bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi2mu” (Arai-Laskar Pelangi)

    *meminta maaf sedang dia sendiri ga membuka pintu maaf* ironis..

  2. kemas Says:

    ” Yang Pasti Mbro.., sekarang waktu dan Jarak sudah diperpendek antara Bulukumba - Makassar .., bukan Bulukumba _ Palangkaraya…,
    CONGRATULATION…….., saya sekeluarga turut senang …., ada tetangga Baru ;) Maha Besar Allah yang selalu mendengarkan doa hamba2nya”…

  3. RaYunG Says:

    alhamdlillah…
    akhirnya doa nya dikabulin jg ma Allah y mas…
    selamat deh…
    (^_^)

Leave a Reply